Share this post:

Wagub Jateng Gandeng Perguruan Tinggi, USTEDI Berdampak Dorong Pemuda Jadi Motor Ekonomi Desa

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meluncurkan Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda di Lapangan Losari, Kota Surakarta, Rabu (19/8/2026). Program ini menjadi langkah nyata Pemprov Jawa Tengah dalam mendorong pemuda dari keluarga kurang mampu untuk tumbuh sebagai penggerak ekonomi lokal.Pemuda usia 16–30 tahun dari keluarga desil 1–4 akan mendapatkan pendampingan melalui pelatihan keterampilan, pengembangan usaha, akses pekerjaan, hingga peningkatan pendapatan.

USTEDI Berdampak Hadir di Tengah Masyarakat

Untuk memperkuat program tersebut, Pemprov Jawa Tengah menggandeng sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Sains Teknologi Ekonomi Digital Indonesia (USTEDI). Keterlibatan USTEDI menjadi bagian dari komitmen USTEDI Berdampak. Melalui kolaborasi ini, USTEDI menghadirkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk membantu pemuda mengembangkan potensi ekonomi di wilayahnya. Wagub Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memetakan potensi desa. Kampus juga membantu pengembangan usaha, transfer teknologi, digitalisasi, penguatan kelembagaan, dan perluasan akses pasar. Koordinator perguruan tinggi, Dr. Cahyani Tunggal Sari, S.E., M.A., M.M., menegaskan bahwa peran kampus harus menghasilkan dampak yang nyata dan berkelanjutan.

“Kami ingin memastikan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kapasitas akademik benar-benar hadir mendampingi pemuda sampai mereka mampu mengembangkan potensi desa dan kelurahannya menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” ujar Dr. Cahyani.

Dari Potensi Lokal Menjadi Peluang Ekonomi

Pendampingan dilakukan sesuai potensi setiap wilayah. Di Kelurahan Semanggi dan Nusukan, misalnya, dikembangkan budidaya ikan nila, pengolahan sampah, urban farming, UMKM, serta pemasaran digital. Desa Winduaji, Brebes, diarahkan pada pengembangan hilirisasi kopi. Kegiatannya meliputi roasting, packaging, branding, hingga pengembangan gerai kopi. Sementara itu, Desa Belik, Pemalang, memiliki potensi hilirisasi nanas, wisata petik nanas, peternakan, lele, maggot, dan BUMDes. Desa Mendelem dikembangkan melalui potensi gula aren, wisata, UMKM, dan pemasaran digital. Melalui pendekatan tersebut, USTEDI Berdampak tidak hanya mendorong pemuda untuk memiliki keterampilan. Pemuda juga diarahkan untuk mampu melihat potensi di sekitarnya sebagai peluang ekonomi.

Kolaborasi untuk Mewujudkan USTEDI Berdampak

Dr. Cahyani menyebut kolaborasi menjadi kunci keberhasilan program. Pemerintah memiliki kebijakan dan program. Perguruan tinggi memiliki ilmu, dosen, dan mahasiswa. Dunia usaha memiliki akses pasar dan pembiayaan. Sementara desa memiliki potensi dan pemuda sebagai penggeraknya. “Pemuda harus ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima program,” tegasnya. Pelaksanaan intervensi dan monitoring berlangsung pada Agustus hingga November 2026. Delapan wilayah percontohan tersebut diharapkan menjadi model pemberdayaan pemuda yang dapat diterapkan di daerah lain.

Bagi USTEDI, keterlibatan dalam program ini merupakan wujud nyata USTEDI Berdampak. Pendidikan, teknologi, dan inovasi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir untuk membuka peluang, mengembangkan potensi daerah, dan menciptakan perubahan nyata bagi masyarakat.